DAGADU – MATAMU
Ketika itu , hampir sebelum saya mengambil gagang pintung ruangan bernomor 205, saya ditakdirkan bertemu seseorang, seseorang yang tak lain tak bukan adalah si Bapak Pengajaran (sebut saja namanya Bapak Berkumis yang Budiman).
Tiba-tiba di bapak berkumis yang budiman(BPyB) itu memanggil saya : Qha!!!
Saya : “ IYA , Pak berkumis nan budiman?”
BPyB : “ Qha, kayaknya tak liat ada yang beda dari kamu?”
Saya : “ Oh ya, Pak” .menjawab dengan sedikit setengah hati coz merasa ini percakapan yang sedikit harus dihindari ketika kita jelas-jelas sudah telat kuliah. Tetapi saya lanjutkan “ beda gimana , Pak?”
BPyB : “Apa ya?”
Tiba-tiba entah dari mana datangnya ternyata saya baru sadar bahwa bukan hanya si BPyB itu yang mengamati saya dari ujung bawah ke ujung atas. Di sampingnya ada seorang makhluk juga yang saya kenal (pastinya) tetapi saya benar-benar lupa ketika menulis postingan ini. Im sorry, my pal;p. Bahkan jenis kelaminnya pun saya lupa. Berjilbab? Tidak berjilbab? Berkumis? Gonrong? Ahhhh entahlah. beneeran lupa saya.
Sebut saja dia Teman yang Saya Kenal tetapi Lupa (TySKtL)
Saya : “ Apa ya , Pak?” entah kenapa saya malah jadi tertarik untuk tau apa dan tidak memikirkan ketelatan saya (biasanya jg ga pernah mikirin si;) )
BPyB : “ kurusan”
Saya : oh,girls. Itu harusnya jawaban yang selalu ingin didengar para gadis-gadis normal, dan saya rasa saya normal. Tapi ntuk hari ini saya harus mengakui bahwa itu pasti……
TySKtL: “ bukan, pak. Qhachan malah tambah gemukan”
Hmmm… sial , teman saya itu memotong pikiran saya. Ok tadi saya pun bermaksud bilang “pastibukan itu bedanya”. Yah karena kenyataannya dalam beberapa minggu ini saya memang naik 2 kilo. Ok ga penting. Yang penting saya mau tau apa yang beda pada saya. Dan kembali bertanya.
Saya : “ apa Pak kira2?”
BPyB : “ hmmm. Saya tau , Qha. Mukamu beda. Aneh. Terlihat kayak…..”
Saya : “….orang stress ya, Pak”, saya memotongnya
BPyB : “ Nah iya, kamu kliatan kayak orang banyak pikiran, ga seperti biasa.”
TySKtL: “Iya , benar Pak”. Si teman tak teringat itu tiba-tiba nimbrung lagi dan perannya pun cuma sampe sini karena setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya ia pun ngeloyor pergi. menghilang, menjauhhhh, (horeeee)
Saya : “ hmmm..iya pak saya emang lagi sakit fisik dan mental” (orang yang kuliah psikologi diajarkan untuk tidak malu untuk mengungkapkan kondisi psikologis mereka, karena sakit mental (menurut saya) ≠ sakit jiwa.
TAPI, Please… jangan membayangkan kami berjalan-jalan di gedung kuliah dan berteriak-teriak “ Saya Sakit Mental, lho!!” atau semacamnya. Ya belum sampai se ekstrim itu. (bukankah begitu teman-teman psikologi?)
-baiklah saya cepatkan ceritanya, setelah menyudahi pembicaraan dengan BPyB dan pertemuan singkat dengan TySKtL. Saya masuk kuliah dan merasa bodoh karena ternyata kuliah kosong dan saya hanya menjumpai seonggok bangku-bangku serta meja yang juga melihat saya dengan tatapan kosong. Saya sempat merasa mereka (si bangku dan benda2 di kleas kosong lainnya) juga berkata “ qha, kayaknya kok ada yang beda ya dari kamu”. Untuk menghindari fakta yang sama dengan tadi , saya segera kabur dari kelas itu dan berjalan menuju. WC emmm toilet wanita maksudnya.
disebuah toilet wanita…
Oke, sudah hampir 5 menit saya lihat-lihatan dengan seseorang yang harusnya berwajah cukup cantik dan enak dilihat tapi pada kenyataannya saaat itu saya hampir-hampir tidak mengenalinyaaaaaaa….
Ow..ow…siapa dia???.
Saya lihat satu-satu.
Pipi-nya?
Oke, dia masih menempel dengan mantabnya dan seakan – akan berkata “say no to TIRUS, honey”
Mulut?
Masih jauh dari bibir dower nan seksi, ataupun tipis melipis. Alias masih sama.
Hidung?
Sama juga. Kata sebagian orang bagaikan jambu. Tanpa kesan imut sama sekali. Dan saya masih melihat itu.
Mata?
tidak coklat dan tidak murni hitam juga. Dengan ujung kelopak mata yang sedikit turun. Yang menurut orang-orang membuatnya menjadi orang berwajah melas. Yup, juga Sama.
Alis?
Tidak tebal, hampir mendekati tipis dan masih menyimpan memori 15 taun silam ketika dicukur dengan alat cukur kumis punya si babe( ingatlah, jangan main2 dengan alat cukur kumis, apalagi untuk cukur alis karena tumbuhnya luaamaaaa sekali)
Haaaaaa……saya bingung. Lantas apa yang beda.
Kenapa saya tidak mengenali wanita berkerudung di di depan saya?
Saya mengulangi melihat- melihat lagi , satu demi satu.
Apa yang berubah. Warna kulitnya memang memudar. Tapi rasanya bukan itu.
Berpikir, terus berpikir.
Dan yaaaaa…dengan senang dan berat hati saya tau, saya tau apa yang berbeda dan membuat saya tak mengenalinya..,
saya yakin itu,.
MATAnya
Saya tau wanita di depan saya itu punya mata yang memelas, tetapi itulah yang tadi saya lupa. Saya sangat mengenalinya lewat matanya. Hampir 15 tahun terakhir (ketika saya mulai intens berhadapan dengan yang namanya cermin) saya selalu melihatnya di pagi hari, sebelum berangkat sekolah. Matanya. Matanya selalu menatap saya. Penuh semangat. Dan sangat menyemangati. Matanya memang tidak seperti bola pingpong, tidak besar membulat seperti tokoh gadis cantik di serial cantik dan pastinya tidak seperti Mandira di My Name’s Khan (ohhh,,,her eyes is sooooo beautiful).
ataupun seperti dari 10- most- beautiful-eye-in yhe-world.
hahaaa.jauuuuuhhhhlah
Tapi buat saya, mata wanita itu selalu punya energi yang luar biasa untuk saya. Untuk sekedar tersenyum ketika saya senang , menemani saat saya sendirian, ikut mengasihi ketika saya sedih. Dan saya akan merasa lebih baik. jauh lebih baik.
Dan sekarang, saya tahu. Bahwa mata itu sudah berubah. Jangankan memberikan semangat untuk saya, bahkan untuk dirinya sendiri pun sepertinya tidak. Bagaikan heandphone yang hampir keabisan batre. Dia sedang lowbat. Ya, benar!!! Dia sedang lowbat dan butuh di charge.
Astaghfirullah,
Saya merasa sangat jahat. Itulah kesalahan saya. Ini benar murni kesalahan saya. Saya lupa men-chargenya. Saya khilaf. Selama ini terlalu asyik dengan diri saya sendiri. Saya lupa menanyakan keinginannya. Saya bahkan jarang sekali menyapanya. Tidak pernah mengucapkan selamat tidur untuknya. Saya terlalu sibuk ini-itu-ini-itu-ini-itu.
Saya akan membuatmu mengeluarkan pancaran energi postifmu lagi.
Pasti.
Saya janji.
Beberapa waktu ke depan ini akan menjadi milikmu, wahai gadis.
Sampai kamu menjadi kamu yang saya kenal.
Salam pertemanan kembali,gadis



